Loading...

Rabu, 25 Agustus 2010

Pembelajaran Biologi dengan Media Audio Visual

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia saat ini masih dapat kita lihat sedang diliputi oleh
masalah besar, meliputi : 1). Mutu pendidikan yang dinilai masih rendah, 2). Sistem pembelajaran yang belum memadai dan 3). Krisis moral yang masih melanda masyarakat Indonesia(Ginting,2006)
            Perkembangan pendidikan di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini menuntut siswa agar belajar lebih giat lagi. Baik tidaknya mutu pendidikan dapat kita lihat dari prestasi belajar yang diperoleh anak mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satu diantaranya adalah memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan. Baik tidaknya prestasi belajar yang diperoleh siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah faktor media belajar yang digunakan untuk menambah ketertarikan dan minat belajar siswa serta memperjelas materi pelajaran yang diberi di sekolah.
            Penggunaan media belajar merupakan unsur yang sangat mendukung peningkatan prestasi belajar siswa di sekolah, dikatakan demikian karena selama ini siswa selalu belajar dengan kondisi apa adanya dengan penggunaan media yang sederhana yang mereka terima di kelas. Siswa akan jenuh dan bosan menerima pelajaran bila dari hari kehari menggunakan media yang sama, mereka hanya akan berkhayal dan berandai–andai atau bercerita saat melihat papan tulis yang dihiasi kapur dan guru yang mengoceh di depan mereka, apalagi siswa yang duduk di bangku paling belakang, mereka akan bercerita di belakang saat guru menjelaskan di papan tulis karena mereka tidak tertarik dengan pelajaran. Untuk itulah perlu dicari solusi untuk membuat mereka menjadi tertarik dan bersemangat saat pelajaran diberikan(Ginting,2006).
            Sistem serta sarana dan prasarana yang kuranglah yang menjadikan siswa menjadi jenuh dan bosan, sehingga pendidikan di Indonesia semakin terpuruk. Seperti dalam Harian Umum Pelita Edisi 2009, Rabu 15 Juli diberitahukan bahwa Dirjen Dikti Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam temu muka bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Prancis di Paris pun mengakui bahwa posisi Pendidikan di Indonesia masih kurang di kawasan Asia. Menurut Satryo Pendidikan Indonesia sudah mengarah ke posisi ideal dalam tingkat dunia, juga posisi di Asia cukup bersaing hanya saja kondisinya belum optimal, masih banyak infrastruktur, sarana, dan prasarana yang belum dibenahi. Penilaian tersebut merupakan hasil survei Badan UNESCO PBB. Dikatakan oleh UNESCO kualitas pendidikan Indonesia di Asia masih kurang, walaupun sudah mengalami peningkatan sejak tahun 2001 s/d 2008. Dari 193 negara anggota UNESCO, posisi kualitas Pendidikan Indonesia berada pada tingkat menengah ke atas (http://www.pelita.or.id. Diakses tanggal 20/07/09)
            Hal inilah yang menjadi indikator, bahwa masih perlu dilakukan berbagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu komponen yang menentukan untuk terjadinya proses belajar adalah guru dan strategi mengajar yang digunakanya. Guru juga berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial. Oleh karena itu guru berperan aktif menempatkan kedudukan sebagai tenaga professional sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Guru harus senantiasa menggunakan segala upaya termasuk menggunakan keterampilan yang dimilikinya, salah satu dari keterampilan itu adalah penggunaan media dalam pembelajaran saat mengajar.
            Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah tantangan global teknologi komputer, tantangan kedepan yang akan dihadapi oleh guru makin berat, guru juga akan ketinggalan apabila tidak mampu beradaptasi terhadap zaman yang sudah modern seperti sekarang ini. Apabila murid lebih pintar dari guru pasti guru itu sendiri pun akan merasa malu, bukanya suatu hal yang perlu dibanggakan karena muridnya pintar dan menguasai teknologi lalu gurunya masa bodoh, tetapi  hal ini menjadi indikator yang menunjukkan bahwa guru pun masih ketinggalan dibandingkan muridnya sendiri. Sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan, maka guru pun mau tidak mau harus belajar lagi, harus berubah. Masih banyak guru yang kurang dalam hal penguasaan IPTEK Komputer, seperti dalam Harian Analisa edisi Rabu, 22 Juli 2009:20-22 diberitahukan bahwa dalam hasil KTI (Karya Tulis Ilmiah) yang diselenggarakan oleh LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Propinsi diberbagai daerah Indonesia ternyata tidak semudah dan seindah yang dibayangkan. Hasil uji coba yang pertama menunjukkan data banyak guru masih enggan mengikuti proses pembelajaran dengan sarana komputer dan internet karena beragam alasan, yang paling dominan adalah ketidakmampuan mengoperasikan komputer apalagi internet. Ironi, tetapi itulah kenyataan di lapangan.
            Oleh karena itu, untuk mendukung perkembangan mutu pendidikan maka guru pun harus mampu memanfaatkan teknologi pendidikan. Seperti teknologi komputer yang paling berpotensi untuk dijadikan senjata andalan guru dalam proses pembelajaran yaitu sebagai media pembelajaran. Apabila guru telah mampu menguasai teknologi komputer seperti yang diharapkan, maka dapat dipastikan kualitas mutu pendidikan di Indonesia pasti akan maju dan berkembang (Damanik dalam Harian Analisa, 2009:20-22).
            Banyak Sekolah telah menerapkan pemakaian media dalam Proses Kegiatan Belajar Mengajar. Namun penggunaan media tersebut hanya pada sebatas pada media yang sederhana seperti penggunaan Charta, Media Gambar atau skema sederhana seperti Peta Konsep dan penggunaan media tersebut hanya sebatas apabila diperlukan sesuai dengan kebutuhan proses pembelajaran seperti hanya saat kegiatan diskusi atau dalam kerja kelompok.
            Seperti pengalaman penulis sendiri ketika melaksanakan PPL, pada saat mengajar menggunakan media visual sederhana seperti peta konsep, hasilnya masih belum memuaskan, karena masih ada juga siswa yang tidak konsentrasi memperhatikan saat penulis mengajar didepan kelas dengan menggunakan media peta konsep. Ketika diadakan tes ulangan materi yang disampaikan dengan menggunakan media peta konsep tersebut, hasilnya masih belum memuaskan karena masih ada juga beberapa siswa yang hasil tes nya dibawah rata – rata.
            Bila dilihat dari hasil tersebut maka belum dapat dipastikan apakah penggunaan media peta konsep benar – benar efektif untuk dipakai dalam proses pembelajaran atau tidak. Perlu dipastikan atau dicari solusi untuk memastikannya.
            Penulis kemudian mendapat solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Perlu dicari alternatif lain untuk dapat meningkatkan minat belajar siswa sehingga juga dapat meningkatkan prestasi hasil belajarnya. Di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini perlu strategi penggunaan media dalam pembelajaran yang lebih menarik dan lebih dapat meningkatkan minat belajar siswa agar tidak bosan dan merasa jenuh sehingga siswa akan belajar dengan penuh semangat.
            Penggunaan media yang lebih modern dan menarik seperti media Audio-Visual dapat menjadi satu alternatif solusi pemecahan masalah. Penggunaan Media Audio-Visual dinilai lebih efektif dalam keberhasilan belajar siswa. Efektivitas penggunaan media Audio-Visual sudah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Ginting (2006:34) dalam skripsinya yang berjudul “Efektivitas Penggunaan Media Audio-Visual Terhadap Keberhasilan Belajar Siswa SMA N 2 Kabanjahe” bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan media audio-visual lebih efektif daripada hasil belajar siswa yang tanpa menggunakan  media audio-visual.
            Dengan kata lain, penggunaan media audio-visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat menjadi alternatif pemecahan masalah diatas.
            Bertolak dari apa yang telah dijelaskan diatas, Penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul :  Perbedaan Hasil Belajar Biologi Siswa Menggunakan Media Peta Konsep dan Media Audio-Visual Pada Materi Pokok Sistem Peredaran Darah Manusia di Kelas XI SMAN 2 Medan T.P. 2009/2010.

1.2  Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, penulis dapat mengidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
  1. Apakah ada perbedaan hasil belajar siswa dengan penggunaan media audio-visual dengan penggunaan media peta konsep dalam mengikuti pelajaran.
  2. Apakah pengajaran dengan penggunaan media audio-visual dapat memberikan hasil belajar siswa yang lebih baik daripada hasil belajar siswa yang pengajaranya menggunakan media peta konsep.

1.3  Pembatasan Masalah
Media dalam pendidikan sangat luas jangkauannya, dan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dimana untuk setiap jenis bidang studi atau kejuruan, media yang digunakan sangat berbeda–beda dan juga cara penggunaanya. Ada media visual seperti gambar/foto, charta, peta konsep, transparansi dan lain–lain. Ada media audio seperti radio, tape recorder serta ada juga media audio-visual seperti televisi, proyektor (LCD), OHP, dan komputer.
Berdasarkan pada penjelasan diatas, pada penelitian ini akan digunakan media visual yaitu peta konsep dan media audio-visual yaitu komputer dan proyektor (LCD).
Untuk itu dalam penelitian ini hanya akan membahas perbedaan hasil belajar siswa dengan menggunakan media peta konsep dan media audio-visual (Komputer dan LCD proyektor) pada materi pokok sistem peredaran darah manusia dikelas XI SMA N 2  Medan T.P.2009/2010.

1.4  Rumusan Masalah
 Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :.
  1. Bagaimanakah hasil belajar siswa terhadap penggunaan media peta konsep.
  2. Bagaimanakah hasil belajar siswa terhadap penggunaan media audio-visual
  3. Bagaimanakah perbedaan hasil belajar biologi siswa setelah diberikan pengajaran dengan menggunakan media peta konsep dan menggunakan media audio-visual pada materi pokok sistem  peredaran darah manusia di kelas XI SMA N 2 Medan.


1.5  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
  1. Mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan media peta konsep.
  2. Mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan media audio-visual.
  3. Mengetahui perbedaan hasil belajar biologi siswa setelah diberikan pengajaran dengan menggunakan media peta konsep dan menggunakan media audio-visual pada materi pokok sistem  peredaran darah manusia di kelas XI SMA N 2 Medan.

1.6  Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah :
  1. Sebagai informasi kepada guru tentang penggunaan media visual dan audio-visual
  2. Sebagai bekal bagi peneliti untuk mempersiapkan diri menjadi guru yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.
  3. Memberi masukan dan solusi bagi guru Biologi dalam memecahkan permasalahan pembelajaran Biologi.
  4. Memberikan masukan dan informasi bagi peneliti lainnya yang ada hubunganya dengan masalah penelitian ini.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1.Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah SMA N 2 Medan Tahun Pembelajaran 2009/2010.
3.1.2.Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan dalam melaksanakan penelitian ini adalah pada bulan April – Oktober 2009.

3.2. Populasi dan Sampel Penelitian
3.2.1. Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan sumber data dari objek kegiatan penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA SMA N 2 Medan, yang terdiri dari delapan kelas dengan rincian kelas XI IPA-1 sebanyak 48 orang, kelas XI IPA-2 sebanyak 48 orang, kelas XI IPA-3 sebanyak 47 orang, kelas XI IPA-4 sebanyak 49 orang, kelas XI IPA-5 sebanyak 49 orang, kelas XI IPA-6 sebanyak 45 orang, kelas XI IPA-7 sebanyak 40 orang dan kelas XI IPA-8 sebanyak 40 orang. Maka jumlah populasi keseluruhannya adalah 366 orang siswa.
3.2.2. Sampel
Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan secara purporsif sampling, yaitu dengan cara melihat kelas yang seragam tingkat kepintaranya berdasarkan keterangan guru biologi yang mengajar dikelas tersebut diantara delapan kelas yang ada. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua kelas dari delapan kelas yaitu kelas XI IPA-7 yang berjumlah 49 orang dan XI IPA-8 yang berjumlah 49 orang.


3.3. Variabel  Penelitian
            3.3.1.Variabel Bebas
Yang menjadi variabel bebas  dalam penelitian ini adalah pengajaran  dengan media peta konsep dan media audio-visual.   
3.3.2. Variabel Terikat
Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian adalah hasil belajar yang  diperoleh siswa.
3.4. Rancangan Penelitian.
            Adapun rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperti yang tampak pada table berikut ini.:
Tabel.3.1. Rancangan Penelitian
Kelas
Tes awal
Perlakuan
Tes Akhir
XI IPA-7 (Peta Konsep)
XI IPA-8 (Audio-Visual)
Y 1
Y 1
T 1
T 2
Y 2
Y 2

Keterangan :
Y 1      =  Tes kemampuan awal (pre tes)
Y 2      =  Tes setelah adanya perlakuan  (pos tes)
T 1       =  Pengajaran dengan penerapan media peta konsep
T 2       =  Pengajaran dengan penerapan media audio-visual
3.5. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Komputer ( laptop )
2. Kase            t CD berisi Materi Pembelajaran.
3. Liquid Crystal Display ( LCD )
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Buku pegangan penuntun Biologi penerbit Grafindo Media Pratama 2006.
3.6.  Langkah- Langkah Penelitian
            Langkah - langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
            1.  Tahap Persiapan.
                        1.1.  Penyusunan jadwal penelitian
                        1.2.  Membuat Rancangan Progam Pengajaran.
                        1.3.  Menyusun soal sebagai alat pengumpul data.
            2.  Tahap Pelaksanaan.
                        2.1.  Menentukan kelas-kelas sampel dari populasi yang ada.
                        2.2.  Melaksanakan proses belajar mengajar.
                        2.3.  Memberikan tes akhir.
3.7.  Prosedur Pelaksanaan Penelitian
            Prosedur penelitian ini pelaksanaannya dilakukan tiga tahapan, yaitu:
1.  Tahap Pertama : Memberikan tes kemampuan Awal (pre tes) dengan   
     bentuk tes objektif tes.
2.  Memberikan pengajaran dengan menggunakan media peta konsep pada
     kelas XI  IPA-7 dan  pada kelas XI IPA-8 dengan menerapkan
     penggunaan media audio-visual.
            3.  Memberikan tes akhir dalam bentuk objektif tes pada siswa yang telah
                 melaksanakan pembelajaran baik dengan penerapan peta konsep
     maupun dengan penerapan media audio-visual.
3.8.  Alat Pengumpulan Data
            Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian adalah tes obyektif yang berjumlah 40 soal dalam bentuk pilihan berganda dengan jumlah pilihan lima butir dan RPP(Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang terdapat pada lampiran 1 halaman 68 dan halaman 74. Soal memiliki ketentuan jika benar mendapat nilai 1, dan jika salah diberi nilai 0. Sebelum instrumen digunakan ke kelas eksperimen, peneliti terlebih dahulu menguji tes tersebut ke sekolah lain, guna mengetahui validitas tes, reliabilitas, tingkat kesukaran soal dan daya pembeda soal.
3.7.1. Validitas Tes
            Validitas tes adalah sebuah tes yang mempunyai hubungan besar terhadap skor total. Untuk mengetahui validitas suatu tes, validitas tes yang dilakukan adalah validitas isi (content validity). Sebuah tes dikatakan mempunyai validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi sehingga digunakan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut :
            rxy =       ( Arikunto, 2006 )
Keterangan:
rxy      = Koefisien validitas tes
X     = Skor butir soal
Y     = Skor total butir soal
N   = Jumlah seluruh siswa yang mengikuti tes (sampel)
            untuk menafsir keberartian harga validitas tiap soal maka harga tersebut dikonsultasikan ke tabel harga kritik r produk moment dengan kriteria rhitung > rtabel untuk taraf nyata α= 0,05 maka korelasi tersebut dikatakan valid.

3.7.2. Reabilitas tes
            Untuk mengetahui reabilitas tes dalam penelitian ini, digunakan rumus sebagai berikut:
            R11 =                                (Arikunto,2006)


Keterangan : 
         r11        = Reliabilitas tes secara keseluruhan
         p          = Proporsi subjek yang menjawab soal dengan benar
         q          = Proporsi subjek yang menjawab soal dengan salah
                         (q=1-p)
         ∑pq     = Jumlah hasil perkalian antara p dan q
         n          = Banyaknya soal
         S          = Standar deviasi dari tes
Kemudian untuk menginterpretasikan kriteria reliabilitas suatu tes sebagai berikut :
r11 = 0,81 – 1,00 berarti reliabilitas tes sangat tinggi
r11 = 0,61 – 0,80 berarti relliabilitas tes tinggi
r11 = 0,41 – 0,60 berarti reliabilitas tes sedang
r11 = 0,21 – 0,40 berarti relibialitas tes rendah
r11 = 0,0 – 0,20 berarti reliabilitas tes sangat rendah
(Sudjana, 2006:120)

3.7.3. Tingkat Kesukaran
            Rumus yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran test adalah :
            P =            (Arikunto, 2006)
Keterangan :
P  =  Indeks kesukaran
B  =  Banyak siswa yang menjawab dengan benar.
JS =  Jumlah seluruh peserta tes
     Untuk menafsirkan harga tarif kesukaran, maka harga tersebut dikonsultasikan dengan tabel harga (α = 0,05). Untuk mengartikan angka taraf kesukaran item digunakan kriteria (Arikunto, 2003), yaitu :
         P = 0,00 – 0,30 dikategorikan soal sukar
         P = 0,31 – 0,70 dikategorikan soal sedang
         P = 0,71 – 1,00 dikategorikan soal mudah

3.7.4. Daya Beda
Untuk menentukan daya beda item soal, digunakan rumus sebagai berikut:
            D =             (Arikunto,2006)

Keterangan :
D   =    Daya beda
JA  =   Banyaknya  peserta kelompok atas
JB  =   Banyaknya  peserta kelompok bawah
BA =  Banyaknya  peserta kelompok atas menjawab benar
BB =  Banyaknya  peserta kelompok bawah menjawab benar
Dengan kriteria:
D = 0,00-0,20 : kurang
D = 0,21-0,40 : cukup
D = 0,41-0,70 : baik
D = 0,71-1,00 : sangat baik

3.9.  Analisis dan Pengelolahan Data
            Pengujian Persyaratan Analisis Data
Adapun persyaratan analisis data yang digunakan adalah uji normalitas dan uji homogenitas. Untuk uji normalitas menggunakan uji Liliefors, sedangkan untuk uji homogenitas menggunakan uji Bartlett.
1. Uji normalitas
Untuk mengetahui normal atau tidaknya data penelitian tiap variabel penelitiaan digunakan uji Liliefors. Langkah-langkah uji Liliefors sebagai berikut :
a.         Pengamatan X1,X2,X3………………Xn disajikan angka Z1,Z2,Z3……..Zn dengan rumus :
Zi =
( X dan S masing-masing merupakan rata-rata dan simpangan baku dari sampel).
b.         untuk tiap bilangan ini menggunakan daftar distribusi normal baku kemudian dihitung peluang F(Zi) = P(Z<Z1)
c.         Selanjutnya dihitung proporsi Z1,Z2………Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi, jika proporsi ini dinyatakan dengan S (Zi) maka :
S ( Zi ) =
d.         Menghitung selisih F (Zi) – S (Zi) kemudian menentukan harga mutlaknya yang dinyatakan dengan Lo.
e.         Mengambil harga yang paling besar diantara harga mutlak selisih tersebut. Harga terbesar disebut Lo. Untuk menerima atau menolak hipotesis nol, kita bandingkan Lo ini dengan nilai kritis L yang diambil dari daftar nilai kritis L untuk uji Liliefors. Kriteria penelitian adalah :
1.      Jika Lo < Ltabel maka data distribusi normal
2.      Jika Lo > Ltabel maka data tidak distribusi normal

2. Uji homogenitas
                        Uji homogenitas ini digunakan untuk menguji apakah kedua data tersebut homogen yaitu dengan membandingkan kedua variansnya. Pengujian homogenitas dapat dilakukan apabila kedua datanya telah terbukti berdistribusi normal dengan cara uji kesamaan dua varians (Usman, 2006). Dalam hal ini pengujian dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
      (1)  Cari Fhitung dengan menggunakan rumus :
                    
      (2)  Tetapkan taraf signifikansi (α)
      (3)  Hitung Ftabel dengan rumus :
            Ftabel = F1/2α (dk varians terbesar -1, dk varians terkecil -1 )
      (4)  Tentukan kriteria pengujian Ho yaitu :
            Jika Fhitung ≤ Ftabel, maka Ho diterima (homogen)
      (5) Bandingkan Fhitung ≤ Ftabel
        (6)  Buatlah kesimpulannya
4. Uji hipotesis
     Untuk menganalisis data dalam menguji hipotesis dari eksperimen yang menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol digunakan rumus sebagai berikut :

            dimana :
                                (Usman, 2006)
            ttabel dengan pengujian satu pihak yaitu pihak kanan dimana :
                     dk = n1 + n2 – 2
            dengan kriteria pengujian yaitu :
                                    thitung > ttabel, maka H0 ditolak

Tabel 3.2 KISI – KISI SOAL TEST

No
Indikator
Ranah Kognitif
Jumlah
C1
C2
C3
C4
C5
C6
1.




Menjelaskan hubungan antara berbagai komponen darah dan fungsinya

22,31,
25,27, 6, 30,
16,21
5,9
26,34
24,
13 soal
2.


Membuat skema proses pembekuan darah



12,13
3

23
4 soal
3.



Menjelaskan hubungan bagian-bagian jantung dan fungsinya


1,7
15
8, 19,


5 soal
4.



Menjelaskan hubungan struktur pembuluh darah dan fungsinya

18,
35,
20,



3 soal
5.



Menggambarkan lintasan peredaran darah pada manusia


14,10,17




3 soal
6.




Mendiskripsikan gangguan/penyakit yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia

2,4,32,33
11, 28,29,




7 soal
7.
Membandingkan sistem sirkulasi pada hewan-hewan vertebrata

40,
37,38,39,

36,

5 soal
JUMLAH
40 soal


KET :
C1 = Pengetahuan                  C3 = Penerapan                     C5 = Sintesis
C2 = Pemahaman                   C4 = Analisis                          C6 = Evaluasi

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Data Instrumen Penelitian
A. Validitas Tes
            Soal dikatakan valid apabila setelah dihitung dengan menggunakan rumus korelasi produk moment diperoleh nilai rhitung > rtabel. Dari hasil uji validitas yang diuji di sekolah SMA N 13 Medan, hari Selasa tanggal 28 Desember 2009 dengan jumlah responden 40 orang siswa, diperoleh 35 soal yang valid dari 40 butir soal yang dicobakan(Tabel Uji Validitas halaman 98 lampiran 7). Soal dapat dilihat pada lampiran 4 halaman 86. Pada 5 soal yang tidak valid diperbaiki dengan mengganti soal dan diuji cobakan kembali sehingga 40 soal semuanya dapat digunakan sebagai instrument penelitian.
B. Reliabilitas Tes
            Soal dikatakan reliabel apabila setelah dihitung dengan menggunakan rumus Kuder dan Richardson (KR20) diperoleh nilai rhitung > rtabel. Dari perhitungan uji reliabilitas pada lampiran, diperoleh bahwa dari 35 soal yang telah valid, soal dikatakan reliabel yaitu 0,7669, sehingga dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.
C. Taraf Kesukaran Tes
            Kriteria instrumen soal yang baik adalah, memiliki distribusi penyebaran soal sebagai berikut 25% mudah, 50% sedang, 25% sukar. Dari perhitungan pada lampiran yang tertera pada Tabel 6 taraf kesukaran tes, diperoleh bahwa nilai taraf kesukaran adalah 0,2-0,93. Dengan distribusi 31,4% soal mudah, 54,3% soal sedang dan 14,3% soal sukar.
D. Daya Pembeda Soal
            Kriteria instrument soal yang baik adalah apabila dari keseluruhan instrument soal yang diujikan tidak terdapat kriteria soal yang jelek. Namun, pada penelitian ini masih dijumpai 34 buah soal yang memiliki kriteria jelek. Nilai daya beda soal yang diperoleh pada Lampiran 12 yang tertera tabel 7, adalah 0,1 - 0,45. Soal-soal yang diujikan memiliki daya pembeda dengan distribusi 11,4% baik, 77,2 % cukup dan , 11,4% jelek.

4.2 Analisis Hasil Penelitian
A. Data Pre-Test
            Sebelum diberikan perlakuan terlebih dahulu dilakukan pre-test. Pre-test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum materi diajarkan. Berdasarkan hasil perhitungan pre-test diperoleh rata-rata pre-test siswa kelas eksperimen sebelum materi diajarkan sebesar 3,13 dengan nilai tertinggi 4,5 terendah 1,25 dan standar deviasi sebesar 0,824 sedangkan rata-rata pre-test siswa kelas kontrol sebelum materi diajarkan sebesar 2,93 dengan nilai tertinggi 3,75 terendah 1,75 dan standar deviasi 0,577.
            Secara ringkas data pre-test kedua kelas sebelum materi diajarkan, dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.1Data Nilai Pre-Test Siswa
Kelas Eksperimen(IPA8)M.A-V
Kelas Kontrol(IPA7)M.P-K
No.
X
F
Fx
No.
X
F
Fx
1
1,25
2
2,5
1
1,75
1
1,75
2
2
3
6
2
2
4
8
3
2,5
7
17,5
3
2,25
3
6,75
4
2,75
3
8,25
4
2,5
2
5
5
3
3
9
5
2,75
7
19,25
6
3,25
7
22,75
6
3
6
18
7
3,5
2
7
7
3,25
9
29,25
8
3,75
6
22,5
8
3,5
2
7

9
3,75
6
22,5
9
4
2
8
Jumlah
40
117,5
10
4,25
2
8,5
Rata-rata
2,93
11
4,5
3
13,5
Sd
0,577
Jumlah
40
125,5

Rata-rata
3,13

Sd
0,824




            Untuk lebih jelasnya nilai pre-test untuk kedua kelas dapat digambarkan dalam polygon frekuensi berikut :
Gambar 4.1 Diagram Batang Nilai Pre Tes Kelas Eksperimen
 











Gambar 4.2 Diagram Batang Nilai Pre Test Kelas Kontrol
 











B. Data Post-Test
            Setelah diketahui kemampuan awal siswa sebelum materi sistem peredaran darah manusia diajarkan selanjutnya diberikan perlakuan yaitu untuk kelas eksperimen diberi pengajaran dengan media audio-visual, sedangkan untuk kelas kontrol diberikan pembelajaran dengan media peta konsep.
            Pada akhir pembelajaran setelah semua materi sistem peredaran darah manusia selesai diajarkan, maka dilakukan post-test untuk mengetahui hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata post-test kelas eksperimen sebesar 7,5 dengan nilai tertinggi 8,75 dan nilai terendah 4,5 serta standar deviasi sebesar 1,511 sedangkan untuk kelas kontrol setelah dilakukan post-test diperoleh rata-rata sebesar 5,9 dengan nilai tertinggi 8,75 dan terendah 3,5 serta standar deviasi sebesar 0,888
Secara ringkas data post-test kedua kelas setelah seluruh materi diajarkan, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.2 Data Nilai Post-test Siswa
Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen
No.
x
f
Fx
No.
x
f
Fx
1
3,5
1
3,5
1
4,5
1
4,5
2
3,75
1
3,75
2
5
1
5
3
4
4
16
3
6,25
1
6,25
4
4,25
1
4,25
4
6,5
3
19,5
5
4,5
2
9
5
6,75
2
13,5
6
4,75
3
14,25
6
7
2
14
7
5
5
25
7
7,25
4
29
8
5,25
4
21
8
7,5
2
15
9
5,5
2
11
9
7,75
6
46,5
10
6,5
1
6,5
10
8
9
72
11
6,75
2
13,5
11
8,25
7
57,75
12
7,25
2
14,5
12
8,5
1
8,5
13
7,5
3
22,5
13
8,75
1
8,75
14
7,75
4
31

15
8
2
16
16
8,25
2
16,5
17
8,75
1
8,75
Jumlah
40
237
Jumlah
40
300,25
Rata-rata
5,92
Rata-rata
7,51
Sd
1,511
Sd
0,888
Untuk lebih jelasnya nilai post-test untuk kedua kelas dapat digambarkan dalam polygon frekuensi berikut:
Gambar 4.3 Diagram Batang Nilai Post Test Kelas Eksperimen
 











Gambar 4.4 Diagram Batang Nilai Post Test Kelas Kontrol
 












C. Uji Normalitas
            Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Lilliefors. Pengujian normalitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah data berasal dari sampel normal atau tidak. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh hasil sebagai berikut :
      1.   Pre-Test
            Dengan menggunakan uji Liliefors, skor yang diperoleh pada kelas eksperimen dengan Lhitung = 0,1349 sedangkan harga Ltabel pada α = 0,05 adalah 0,1401. hal ini menunjukkan Lhitung < Ltabel artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Pada kelas kontrol diperoleh Lhitung = 0,1373 sedangkan harga Ltabel pada α = 0,05 adalah 0,1401 dibandingkan dengan Ltabel maka Lhitung < Ltabel = 0,1373 < 0,1401. Hal ini menunjukkan bahwa sampel dari populasi yang berdistribusi normal.
            Untuk lebih jelasnya ringkasan hasil uji normalitas data pre-test dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Data Pre-Test
Kelas
Rata-rata
Sd
Lhitung
Ltabel
(α=0,05)
Keterangan
Eksperimen
3,1
0,824
0,1349
0,1401
Normal
Kontrol
2,9
0,577
0,1373
0,1401
Normal
            Dari tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa data pre-test kedua kelas berasal dari sampel yang berdistribusi normal, dengan harga Lhitung < Ltabel.
      2.   Post-Test
            Dengan menggunakan uji Liliefors, skor yang diperoleh pada kelas eksperimen dengan Lhitung = 0,1346 sedangkan harga Ltabel pada α = 0,05 adalah 0,1401. Hal ini menunjukkan Lhitung < Ltabel artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Pada kelas kontrol diperoleh Lhitung = 0,1131 sedangkan harga Ltabel pada α = 0,05 adalah 0,1401. dibandingkan dengan Ltabel maka Lhitung < Ltabel = 0,1131 < 0,1401. Hal ini menunjukkan bahwa sampel dari populasi yang berdistribusi normal.
            Untuk lebih jelasnya ringkasan hasil uji normalitas data post-test dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data Post-Test
Kelas
Rata-rata
Sd
Lhitung
Ltabel
(α=0,05)
Keterangan
Eksperimen
7,51
0,888
0,1346
0,1401
Normal
Kontrol
5,92
1,511
0,1131
Normal
            Dari tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa data post-test kedua kelas berasal dari sampel yang berdistribusi normal, dengan harga Lhitung < Ltabel.

D. Uji Homogenitas
            Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua data yang berasal dari sampel yang berbeda adalah homogen.
      1.   Pre-Test
            Dari perhitungan uji homogenitas diperoleh Fhitung = 1,42, sedangkan Ftabel pada α = 0,05 harga F1/2α(39,39) = 1,704, sehingga diperoleh Fhitung < Ftabel = 1,42 < 1,704 yang berarti varians sampel homogen.
      2.   Post-Test
            Dari perhitungan uji homogenitas diperoleh Fhitung = 1,701, sedangkan Ftabel pada α = 0,05 harga F1/2(39,39) = 1,704 sehingga diperoleh Fhitung < Ftabel = 1,701 < 1,704 yang berarti varians sampel homogen.
            Untuk lebih jelasnya ringkasan uji homogenitas varians dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.5 Ringkasan Uji Homogenitas Varians
Data
Fhitung
Ftabel
Kesimpulan
Pre-Test
1,421
1,704
Varians Homogen
Post-Test
1,701
            Dari tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa data pre-test dan post-test kedua kelas adalah homogen atau mempunyai varians yang sama dengan harga Fhitung < Ftabel.

E. Uji Hipotesis
            Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ho :     Hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media audio-visual lebih kecil atau sama dengan hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media peta konsep pada materi pokok sistem peredaran darah manusia di SMA N 2 Medan T.P. 2009/2010.
Ha  :     Hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media audio-visual lebih besar daripada hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media peta konsep pada materi pokok sistem peredaran darah manusia di SMA N 2 Medan T.P. 2009/2010.
            Setelah diketahui bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal dan mempunyai varians yang sama (homogen), maka dapat dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji statistik t. Pada pengujian hipotesis data post-test diperoleh thitung = 5,43 pada taraf nyata α = 0,05 dan dk = 78 dengan t(0,975)(78) = 2,006. Kriteria pengujian adalah terima Ho jika thitung ≤ ttabel dan tolak Ho jika t mempunyai harga-harga lain. Dari perhitungan diperoleh thitung = 5,43 > 2,006. Hal ini berarti Ho ditolak sedangkan Ha diterima sehingga disimpulkan “Hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media peta konsep lebih besar daripada hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media peta konsep pada materi pokok sistem peredaran darah manusia manusia di SMA N 2 Medan T.P. 2009/2010.
4.3 Pembahasan
            Dari analisis data instrumen penelitian, dari 35 soal yang valid diketahui tingkat kesukaran soal yang diperoleh sebesar 31,4% mudah, 54,3% sedang, dan 14,3% sukar. Sedangkan untuk daya beda soal diperoleh 11,4% soal berkategori baik, 77,2% soal berkategori cukup, dan 11,4% soal berkategori jelek. Setelah data instrument penelitian selesai dianalisis, diketahui bahwa instrumen penelitian yang digunakan memiliki kategori yang baik, selanjutnya dilakukan pre-test yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum materi diajarkan. Berdasarkan hasil pengolahan data dalam penelitian telah diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen untuk pre-test 3,1 sedangkan pre-test untuk kelas kontrol 2,9. Setelah data dianalisis. Maka kedua kelas tersebut memenuhi persyaratan karena keduanya berdistribusi normal dan mempunyai varians yang sama (homogen).
            Setelah keduanya memenuhi syarat yaitu berdistribusi normal dan homogen maka kedua kelas dapat diberikan perlakuan pengajaran. Untuk kelas eksperimen diberikan pengajaran dengan menggunakan mutimedian berbasis komputer dan untuk kelas kontrol diberikan pengajaran tanpa multimedia berbasis komputer. Setelah diberikan perlakuan maka dari hasil penelitian post-test ditemukan bahwa rata-rata post-test kelas eksperimen 7,51 sedangkan rata-rata pos-test untuk kelas kontrol 5,92 berarti nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata kelas kontrol. Jika dilihat tabel, maka terlihat frekuensi jumlah siswa kelas eksperimen yang mempunyai nilai di atas nilai ketuntasan (di atas nilai 6) lebih banyak yaitu sejumlah 38 orang, sedangkan frekuensi jumlah siswa di kelas kontrol yang mempunyai nilai di atas nilai ketuntasan (di atas nilai 6) sejumlah 17 orang. Hal ini dikarenakan perbedaan media pengajaran yang digunakan dalam proses belajar-mengajar. Seperti kita ketahui, pengajaran di kelas eksperimen menggunakan media audio-visual, sehingga siswa mampu memahami materi lebih jelas, juga dapat menjawab soal-soal post-test yang diberikan dengan benar. Sedangkan di kelas kontrol pengajaran dilakukan menggunakan media peta konsep sehingga siswa mengalami keterbatasan dan kurang berminat dalam memahami materi yang diajarkan.
            Berdasarkan data normalitas dan homogenitas dari kedua kelas maka selanjutnya dilakukan analisa uji t untuk uji satu pihak yaitu pihak kanan dan diperoleh thitung = 5,43 sedangkan ttabel = 2,00 pada α = 0,05 dan dk = 78 sesuai kriteria pengujian pada α = 0,05, dengan demikian thitung > +ttabel, Ho ditolak dan ha diterima sehingga disimpulkan :”Hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media audio-visual lebih besar daripada hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan menggunakan media peta konsep pada materi pokok sistem peredaran darah pada manusia di SMA N 2 Medan T.P. 2009/2010”.
            Berdasarkan tabel dan hasil pre-test dan post-test kelas XI IPA7 (media peta konsep), maka dapat diketahui bahwa persentase peningkatan hasil belajar siswa yaitu :
     
            Dari perhitungan yang dilakukan dapat dilihat bahwa peningkatan hasil belajar siswa setelah di berikan materi pelajaran dengan menggunakan peta konsep adalah 30,20%.
            Perhitungan yang sama juga dilakukan pada peningkatan belajar siswa di kelas eksperimen yang diajar menggunakan media audio-visual di kelas XI IPA8 dengan melihat kembali pada tabel 4.1 dan 4.2
     
            Dari hasil perhitungan di atas diketahui bahwa besarnya peningkatan hasil belajar untuk kelas eksperimen sebesar 33,96% dan peningkatan hasil belajar untuk kelas kontrol sebesar 30,20%. Ini menunjukkan bahwa penggunaan media audio-visual sangat berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar biologi siswa khususnya di sekolah tempat penulis melakukan penelitian yaitu SMA N 2 Medan dan multimedia berbasis komputer dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif dan efisien bagi peningkatan kualitas pengetahuan siswa.
            Penggunaan Media Audio-visual dalam pembelajaran dimaksudkan untuk dapat meningkatkan minat belajar siswa. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan penggunaan multimedia berbasis komputer siswa jadi lebih bersemangat untuk mengikuti pelajaran karena materi pelajaran biologi yang bersifat verbal dapat tervisualisasikan melalui media tersebut.
            Berdasarkan teori bahwa pengajaran dengan menggunakan media audio-visual menunjukkan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan pengajaran yang menggunakan media peta konsep. Hal ini disebabkan karena dengan menggunakan media audio-visual, siswa lebih dapat menggunakan semua alat indera dalam menerima dan mengolah informasi yang sampai kepadanya, dan semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan (Arsyad,2007). Oleh  karena itu, pengajaran dengan menggunakan media audio-visual dapat dijadikan sebagai alternatif dalam penyampaian materi pelajaran biologi pada umumnya dan pada materi sistem peredaran darah manusia khususnya.
            Beberapa temuan-temuan dalam penelitian juga mendukung teori kuat bahwa media audio-visual memiliki kelebihan atau criteria yang sesuai dan memenuhi kebutuhan proses pembelajaran yang sempurna, belajar dikatakan sempurna apabila subyek telah menggunakan atau mengaktifkan seluruh panca indranya, dalam hal ini aspek motorik, afektif, dan psikomotor. Kriteria yang paling utama dalam pemilihan media bahwa media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Contoh : bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Kalau tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan aktivitas), maka media film dan video bisa digunakan, selain itu pada hasil survey penelitian ternyata media audio-visual seperti film, TV, gambar hidup dan sejenisnya menempati rating tertinggi dalam perolehan hasil belajar.(Sudrajat-Media Pembelajaran Modern, 2008)
            Dari hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan multimedia berbasis komputer yang telah dirancang dan telah dilakukan ini mampu mengajak siswa untuk lebih aktif dan kreatif lagi dalam memahami suatu materi pelajaran. Melalui penelitian ini juga menunjukkan  bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan media audio-visual.
            Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, diketahui juga bahwa siswa yang diajarkan dengan menggunakan media audio-visual memiliki antusias yang lebih karena dengan adanya media tersebut pelajaran menjadi informatif dan menyenangkan.
            Dengan demikian dari hasil penelitian yang dilakukan di SMA N 2 Medan Tahun Ajaran 2009/2010 pada siswa kelas XI IPA dengan penggunaan media audio-visual dalam pembelajaran sangat diperlukan untuk membuat pelajaran menjadi menyenangkan dan memvisualisasikan pelajaran yang bersifat audio dan visual sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

4.4 Temuan Penelitian
            Deskripsi hasil belajar siswa setelah mendapat perlakuan adalah : untuk kelompok siswa yang mendapat pengajaran menggunakan media audio-visual pada materi pokok sistem peredaran darah manusia di SMA N 2 Medan diperoleh nilai rata-rata = 7,51, standar deviasi = 0,888, nilai terendah (minimum) = 4,5 nilai tertinggi (maksimum) = 8,75 sedangkan untuk kelompok siswa yang diajar menggunakan media peta konsep pada materi pokok sistem peredaran darah manusia di SMA N 2 Medan, memperoleh nilai rata-rata = 5,92 standar deviasi = 1,511 nilai terendah (minimum) = 3,5 nilai tertinggi (maksimum) = 8,75.
            Setelah dilakukan uji hipotesis t post-test satu pihak yaitu pihak kanan diperoleh nilai thitung = 5,43 sedangkan nilai ttabel = 2,00. Kriteria pengujian adalah diterima Ho jika thitung ≤ +ttabel dan tolak Ho jika t mempunyai harga-harga lain. Dari perhitungan diperoleh thitung = 5,43 > 2,00. Hal ini berarti Ho ditolak sedangkan Ha diterima sehingga disimpulkan “Hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media audio-visual lebih besar daripada hasil belajar biologi siswa yang diajar menggunakan media peta konsep pada materi pokok sistem peredaran darah manusia di SMA N 2 Medan T.P. 2009/2010.
            Dari hasil perhitungan % peningkatan hasil belajar diketahui bahwa besarnya peningkatan hasil belajar untuk kelas Eksperimen sebesar 33,96% lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 30,20%. Ini menunjukkan bahwa penggunaan media audio-visual sangat berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar biologi siswa khususnya di sekolah tempat penulis melakukan penelitian yaitu SMA N 2 Medan dan media audio-visual dapat digunakan sebagai media pembelajaran efektif dan efisien bagi peningkatan kualitas pengetahuan dan semangat belajar siswa.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
            Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Nilai rata-rata hasil belajar siswa siswa kelas kontrol yang diberi pengajaran dengan menggunakan media peta konsep yaitu sebesar 5,92 dengan standar deviasi sebesar 1,511.
2.      Nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas Eksperimen yang diberi pengajaran dengan menggunakan media Audio-visual yaitu sebesar 7,51 dengan standar deviasi sebesar 0,888.
3.      Diperoleh hasil yaitu rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kelas Eksperimen yaitu 7,51 sedangkan Kontrol yaitu 5,92 maka dapat disimpulkan nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai rata-rata kelas kontrol. Persentase peningkatan hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diberi pengajaran dengan menggunakan media audio-visual lebih tinggi, yaitu sebesar 33,96% sedangkan persentase peningkatan hasil belajar siswa kelas kontrol sebesar 30,20%.




5.2 Saran
            Saran yang dapat dikemukakan setelah melakukan penelitian ini adalah :
1.      Diharapkan kepada para guru, khususnya guru bidang studi biologi agar lebih dapar memanfaatkan media belajar yang telah disediakan oleh pihak sekolah guna meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Diharapkan kepada pihak sekolah untuk membuat pelatihan mengenai penggunaan media audio-visual yang berbasis komputer kepada guru, sehingga dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA


Ali, M., (2005), Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi, Penerbit Angkasa, Bandung

Arsyad, A, (2007), Media Pembelajaran, Penerbit Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Arikunto, S, (2006), Prosedur Penelitian, Edisi Revisi, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Christin, S., (2006), Efektivitas Penggunaan Media Audio-Visual Terhadap Keberhasilan Belajar Siswa SMA N 2 Kabanjahe, Pustaka UNIMED, Medan.

Dahar, W.R., (2005), Teori-Teori Belajar, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Damanik, (2009), Teknologi Komputer Dalam Dunia Pendidikan, Harian Analisa, Medan.

Holil, A., (2007), Peta Konsep Untuk Mempermudah Konsep Sulit Dalam Pembelajaran, BlogTopSeratus, Surabaya.

Http://www.biology.clc.uc.edu/_diakses pada tanggal 28/07/2009.

Http://www.emc.maricopa.edu_diakses pada tanggal 28/07/2009.



Http://www.pelita.or.id_diakses pada tanggal 20/07/2009.

Http://www.redaksi@pelita.or.id_diakses pada tanggal 28/07/2009.

Indrawati, (2000), Model Pembelajaran IPA, Departeman Pendidikan Nasional. Dirjen pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

Karmana, O., (2008), Biologi Untuk Kelas XI Semester 1 SMA, Grafindo Media Pratama, Bandung.

Sudjana, (2007), Metoda Statistika, Tarsito, Bandung.

Sudrajat, A., (2008), Media Pembelajaran, WordPress, Jakarta.


Suleiman, A., H., (1985), Media Audio-Visual Untuk Pengajaran, Penerangan dan Penyuluhan. PT.Gramedia, Jakarta.

Surya, Y, (2007), Liquid Crystal Display; Cair Tapi Padat, Jakarta.
            http://www.fisikanet.lipi.go.id

Suryosubroto, B., (2002), Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Syamsuri, I, dkk, (2007), Biologi Untuk SMA Kelas XI, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Tim Dosen, (2008), Anatomi Fisiologi Manusia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan.

Usman, H, (2006), Pengantar Statistik, Penerbit Tarsito, Bandung.

Usman, U.M, (2006), Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung.

Zubaidah, (1999), Peningkatan Motivasi belajar siswa SLTP Laboraturium Universitas Negeri Malamg Melalui Peta Konsep, Artikel PTK, Malang.


Lampiran 1


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelas XI IPA 7
MENGGUNAKAN MEDIA PETA KONSEP

Nama Sekolah              : SMAN 2 Medan
Mata Pelajaran             : Biologi
Materi Pokok               : Sistem Peredaran Darah Manusia
Kelas / Semester          : XI (Sebelas)/ I (Ganjil)
Alokasi Waktu             : 2 x 45 menit
 


I. STANDAR KOMPETENSI : 2. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada saling temas.
II. KOMPETENSI DASAR : 3.1. Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses serta kelainan yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah.
III. INDIKATOR           : 
1.      Menjelaskan hubungan antara berbagai komponen darah dan fungsinya.
2.      Membuat skema proses pembekuan darah
3.      Menjelaskan hubungan bagian-bagian jantung dan fungsinya.
4.      Menjelaskan struktur pembuluh darah dan fungsinya
5.      Menggambarkan lintasan peredaran darah pada manusia.
6.      Mendiskripsikan gangguan/penyakit yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia

IV. TUJUAN PEMBELAJARAN :
1.      Siswa mampu menjelaskan berbagai komponen darah
2.      Siswa mampu menjelaskan fungsi komponen darah
3.      Siswa mampu membuat skema proses pembekuan darah
4.      Siswa mampu menjelaskan struktur pembuluh darah
5.      Siswa mampu menjelaskan fungsi struktur pembuluh darah
6.      Siswa mampu menggambarkan lintasan peredaran darah pada manusia
7.      Siswa mampu mendeskripsikan gangguan/penyakit yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia.

V. MATERI AJAR
a.    Pertemuan I (2 jam pelajaran)
1. Komponen darah
2. Fungsi darah
3. Proses pembekuan darah
b.    Pertemuan II (2 pelajaaran)
1. Alat Peredaran darah
2. Fungsi alat peredaran darah
c.    Pertemuan III (2 jam pelajaran)
1. Proses Peredaran darah
2. Lintasan Peredaran darah
d.    Pertemuan IV (2 jam pelajaran)
1.      Penyakit pada sistem peredaran darah
2.       Golongan darah

VI. STRATEGI PEMBELAJARAN
6.1. Pendekatan dan Metode
a. Pendekatan
- Keterampilan Proses
6.2. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
6.3. Langkah-Langkah :
No
Pertemuan
Nomor
Indikator
Kegiatan
Pembelajaran
Alokasi
Waktu
1
I (2 x 45)
1,2
PRE-TEST
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Apersepsi
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Peta Konsep,
§         Guru menjelaskan materi darah meliputi komponen dan fungsi darah.
§         Guru menjelaskan terjadinya proses pembekuan darah
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
20’
10’



50’







10’
2
II(2 x 45)
3,4
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Menanyakan materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi hari ini
§         Memotivasi siswa
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Peta Konsep,
§         Guru menjelaskan alat peredaran darah beserta bagian-bagiannya.
§         Guru menjelaskan fungsi alat peredaran darah.
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
15’





60’







15’
3
III(2 x 45)
5
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Menanyakan materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi hari ini
§         Memotivasi siswa
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Peta Konsep,
§         Guru menjelaskan proses peredaran darah dalam tubuh manusia.
§         Guru menjelaskan lintasan peredaran darah.
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
10’





65’







15’
4
IV(2 x 45)
6
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Menanyakan materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi hari ini
§         Memotivasi siswa dan menjelaskan bahwa pada akhir pelajaran akan diadakan post-test
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Peta Konsep,
§         Guru menjelaskan berbagai penyakit pada sistem peredaran darah
§         Guru menjelaskan materi golongan darah.
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
§         Post-test
15’








45’







30’

VII. ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR
7.1. Alat :
- Peta Konsep
- Kapur, spidol, dan papan tulis
- Komputer
- Kaset CD berisi Materi Pembelajaran.
- LCD (Liquid Crystal Display)
7.2. Sumber Belajar :
- Karmana, 2006.Biologi. Bandung : Grafindo Media Pratama
- Syamsuri, 2001.Biologi. Jakarta : Erlangga
- CD Pembelajaran Anivisi Edutama (Sistem Transportasi Manusia)

VIII. PENILAIAN :
-         Pre tes
-         Pos tes (KOGNITIF)
-         Bentuk : Pilihan berganda (TERLAMPIR)

Medan,        Oktober 2009
Mahasiswa Peneliti,                                                      Guru Biologi    

(Pandu Prabowo)                                                         Bakri, S.pd
 NIM.0510310868                                                      NIP.










































RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelas XI IPA 7
MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL

Nama Sekolah              : SMAN 2 Medan
Mata Pelajaran             : Biologi
Materi Pokok               : Sistem Peredaran Darah Manusia
Kelas / Semester          : XI (Sebelas)/ I (Ganjil)
Alokasi Waktu             : 2 x 45 menit
 


I. STANDAR KOMPETENSI : 2. Menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada saling temas.
II. KOMPETENSI DASAR : 3.1. Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses serta kelainan yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah.
III. INDIKATOR           : 
1.      Menjelaskan hubungan antara berbagai komponen darah dan fungsinya.
2.      Membuat skema proses pembekuan darah
3.      Menjelaskan hubungan bagian-bagian jantung dan fungsinya.
4.      Menjelaskan struktur pembuluh darah dan fungsinya
5.      Menggambarkan lintasan peredaran darah pada manusia.
6.      Mendiskripsikan gangguan/penyakit yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia

IV. TUJUAN PEMBELAJARAN :
1.      Siswa mampu menjelaskan berbagai komponen darah
2.      Siswa mampu menjelaskan fungsi komponen darah
3.      Siswa mampu membuat skema proses pembekuan darah
4.      Siswa mampu menjelaskan struktur pembuluh darah
5.      Siswa mampu menjelaskan fungsi struktur pembuluh darah
6.      Siswa mampu menggambarkan lintasan peredaran darah pada manusia
7.      Siswa mampu mendeskripsikan gangguan/penyakit yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia.

V. MATERI AJAR
e.    Pertemuan I (2 jam pelajaran)
1. Komponen darah
2. Fungsi darah
3. Proses pembekuan darah
f.      Pertemuan II (2 pelajaaran)
1. Alat Peredaran darah
2. Fungsi alat peredaran darah
g.    Pertemuan III (2 jam pelajaran)
1. Proses Peredaran darah
2. Lintasan Peredaran darah
h.    Pertemuan IV (2 jam pelajaran)
1. Penyakit pada sistem peredaran darah
2. Golongan darah

VI. STRATEGI PEMBELAJARAN
6.1. Pendekatan dan Metode
a. Pendekatan
- Keterampilan Proses
6.2. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
6.3. Langkah-Langkah :
No
Pertemuan
Nomor
Indikator
Kegiatan
Pembelajaran
Alokasi
Waktu
1
I (2 x 45)
1,2
PRE-TEST
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Apersepsi
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Peta Audio Visual,
§         Guru menjelaskan materi darah meliputi komponen dan fungsi darah.
§         Guru menjelaskan terjadinya proses pembekuan darah
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
20’
10’



50’







10’
2
II(2 x 45)
3,4
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Menanyakan materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi hari ini
§         Memotivasi siswa
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Audio Visual,
§         Guru menampilkan film mengenai materi alat peredaran darah beserta bagian-bagiannya.
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
15’





60’







15’
3
III(2 x 45)
5
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Menanyakan materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi hari ini
§         Memotivasi siswa
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Audio Visual,
§         Guru menjelaskan proses peredaran darah dalam tubuh manusia.
§         Guru menjelaskan lintasan peredaran darah.
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
10’





65’







15’
4
IV(2 x 45)
6
A. Pendahuluan
§         Absensi siswa
§         Menanyakan materi yang lalu dan mengaitkannya dengan materi hari ini
§         Memotivasi siswa dan menjelaskan bahwa pada akhir pelajaran akan diadakan post-test
B. Kegiatan Inti
Dengan menggunakan media Audio Visual,
§         Guru menjelaskan berbagai penyakit pada sistem peredaran darah
§         Guru menjelaskan materi golongan darah.
C. Penutup
§         Guru membimbing siswa untuk membuat kesimpulan dan rangkuman materi yang baru saja diajarkan
§         Post-test
15’








45’







30’

VII. ALAT/BAHAN/SUMBER BELAJAR
7.1. Alat :
- Peta Konsep
- Kapur, spidol, dan papan tulis
- Komputer
- Kaset CD berisi Materi Pembelajaran.
- LCD (Liquid Crystal Display)
7.2. Sumber Belajar :
- Karmana, 2006.Biologi. Bandung : Grafindo Media Pratama
- Syamsuri, 2001.Biologi. Jakarta : Erlangga
- CD Pembelajaran Anivisi Edutama (Sistem Transportasi Manusia)

VIII. PENILAIAN :
-         Pre tes
-         Pos tes (KOGNITIF)
-         Bentuk : Pilihan berganda (TERLAMPIR)




Medan,        Oktober 2009
Mahasiswa Peneliti,                                                      Guru Biologi    

(Pandu Prabowo)                                                         Bakri, S.pd
 NIM.0510310868                                                      NIP.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar